Penguatan Petani
Kelompok Tani dari Kab Nias Barat belajar pertanian organik di LTC - YH
Penguatan Perempuan
Salah satu lahan sayuran perempuan dampingan YH di Kota Gunungsitoli
Kesiapsiagaan Bencana
YH memberikan pelatihan First Aid kepada pelajar dari 3 Kab/Kota dalam rangka peringatan 10 tahun gempa bumi Nias
Adaptasi Perubahan Iklim
Para stakeholder pembangunan mendapatkan pelatihan mitigasi-adaptasi Perubahan Iklim di LTC - YH
Prakerin Pertanian Organik
Para siswa prakerin berlatih isu-isu lain di YH, di samping ilmu pertanian dan peternakan, atas support dari sekolah dan orang tua siswa.
Kredit Mikro
Kantor KSP Yateholi, di Desa Gawugawu Bouso km 11,4 Gunungsitoli Utara Kota Gunungsitoli.
Tentang Kami
Pembina, Pengawas, Pengurus dan Pelaksana YH dalam Rapat Tahunan Yayasan 2015.

Sejarah Yayasan Holi'ana'a

1. ANTARA SALATIGA DAN YOGYAKARTA

Sekitar tahun 1995, orang-orang Nias yang ada di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sekitarnya, berkumpul di Salatiga dalam sebuah acara semiloka yang diprakarsai oleh beberapa orang Nias yang ada di Salatiga dan Yogyakarta, antara lain: W. Gulö, Dalibudi Harefa, dan Octhavianus Harefa, dari Yogyakarta. Pada saat itu, semiloka sendiri bertemakan tentang pemberdayaan masyarakat Nias dalam bidang ekonomi. Dalam kegiatan ini ikut juga komponen IKAONI (Ikatan Keluarga Ono Niha) di Salatiga dan IKN (Ikatan Keluarga Nias) di Yogyakarta, walaupun prakarsanya bukan atas nama kedua organisasi tersebut. Semiloka tersebut dihadiri sekitar 50 orang, yang terdiri dari unsur mahasiswa-mahasiswi Nias yang sedang belajar di Salatiga, Yogyakarta, Semarang, Solo; juga unsur orang-orang Nias yang telah bermukim lama di sekitar kota Salatiga-Solo-Yogyakarta. Pada saat itu, W. Gulö berperan sebagai ketua panitia, dan Octhavianus Harefa sebagai sekretaris.

Semiloka ini membahas banyak hal tentang realitas dan kondisi-kondisi terakhir yang ada dan sedang terjadi di Pulau Nias, serta apa yang mungkin dilakukan oleh orang-orang Nias yang ada diperantauan untuk ikut memberdayakan masyarakat Nias yang ada di Nias, sehingga kehidupan orang-orang Nias lebih berkesejahteraan dibandingkan dengan situasi yang sedang dialami pada saat itu. Seperti umumnya pertemuan primordial etnik di perantauan, selalu diwarnai dengan semangat nostalgia yang menggebu-gebu, yang biasanya juga berakhir dan hilang bersama dengan selesainya pertemuan demi pertemuan tersebut.

Semiloka ini memang tidak menghasilkan kesepakatan bersama, namun ia telah menambahkan semangat yang kuat kepada W. Gulö, Dalibudi Harefa, dan Octhavianus Harefa, yang melakukan beberapa kali pertemuan pasca semiloka tersebut; sekaligus juga membicarakan laporan dan evaluasi atas semiloka, dan apa yang mungkin menjadi tindaklanjutnya. Dalam beberapa kali pertemuan tersebut, akhirnya ada kesepakatan antara tiga orang; yakni W. Gulö, Dalibudi Harefa, dan Octhavianus Harefa, untuk mengkonkretkan sebuah partisipasi, (perjuangan) yang dicita-citakan itu dengan mendirikan sebuah yayasan, yang pada saat itu masih belum tahu apa namanya. Satu hal yang pasti adalah bahwa yayasan itu harus bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat Nias, baik itu dalam peningkatan sumber daya manusia, dan terlebih-lebih permberdayaan ekonomi.

Sebuah yayasan? Mengapa harus melalui sebuah yayasan? Kenapa tidak memperkuat pemeritah dan organisasi yang sudah ada, seperti gereja-gereja yang sudah cukup lama berakar di kepulauan Nias? Bahkan juga ada lembaga-lembaga pelayanan masyarakat yang telah didirikan oleh masing-masing sinode gereja-gereja yang ada di Nias saat itu. Mengapa bukan lembaga-lembaga ini saja yang diperkuat?

Dalam banyak pertimbangan yang muncul, group diskusi ini berkesimpulan bahwa pemda Nias; -yang pada saat itu masih hanya ada satu kabupaten di Nias, (sekarang sudah menjadi empat kabupaten dan satu kota),- mempunyai jalan dan strateginya sendiri, terutama melalui jajaran birokrasi untuk membangun masyarakat Nias. Disadari bahwa tidak mungkin dilakukan transformasi yang cepat dan mendasar terhadap kinerja pemerintah daerah Nias, karena mereka adalah bagian dari birokrasi raksasa yang hidup di Propinsi Sumatera Utara, sekaligus sebagai turunan dari birokrasi pemerintahan republik Indonesia. Artinya, biarkan pemda Nias berjalan sendiri dengan kinerja dan caranya sendiri, namun jelas tidak mungkin dan bukanlah jalan terbaik untuk menyalurkan aspirasi dan partisipasi konkret untuk ikut memberdayakan masyarakat Nias, seperti yang sedang dipergumulkan itu.

Demikian juga dengan jajaran lembaga gereja-gereja yang sudah ada; yang pada saat itu, paling tidak sudah ada sinode gereja BNKP, sinode gereja AMIN, sinode gereja ONKP, sinode gereja AFY dan juga sinode gereja BNKP-Indonesia yang sekarang sudah berubah menjadi GNKP-Indonesia. Namun pada saat yang bersamaan, harus juga diakui bahwa sinode-sinode ini sudah memulai dan memiliki Pelmas (pelayanan masyarakat) masing-masing sinode, sehingga dalam banyak hal, disadari atau tidak disadari, kadang-kadang kepentingan primordial masing-masing lebih dipentingkan daripada kepentingan kemanusiaan atau masyarakat Nias pada diri umumnya. Akhirnya sering juga pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh gereja-gereja di Nias, terhambat oleh kepentingan birokrasi gereja itu sendiri, yang pada gilirannya lebih banyak mengorbankan kepentingan kemanusiaan daripada kepentingan organisasi itu sendiri.

Untuk itu, disepakati bahwa yayasan yang akan didirikan itu, tidaklah berbasis gereja, karena itu dapat menjadi batu sandungan suatu saat kelak, juga tidak berdasarkan agama, dalam hal ini agama Kristen, namun dia berdasarkan kemanusiaan semata-mata. Sehingga dengan demikian, yayasan ini nanti akan berdiri di atas nilai-nilai kemanusiaan; yang pada gilirannya juga adalah nilai-nilai keadilan, kesetaraan, kebersamaan dan perdamaian; yang juga dimengerti sebagai perwujudan dari cita-cita Kerajaan Allah yang diperjuangkan oleh Yesus, yang dikenal dalam agama Kristen. Jadi walaupun dia tidak berdasarkan agama dan tidak berbasiskan komunitas gereja tertentu, namun yayasan ini adalah yayasan kemanusiaan yang berdiri di atas nilai-nilai keadilan, kebenaran, kesetaraan dan perdamaian, seperti juga yang diperjuangkan oleh banyak agama-agama yang ada di muka bumi ini.

Kesadaran ini sudah sangat kuat di antara para penggagas awal, dan demikian juga di antara para pengurus dan pendiri awal Yayasan Holi’ana’a. Walaupun mereka berasal dari berbagai macam latar belakang gereja, namun latar belakang gereja tidak menjadi pertimbangan dalam semua hal dan aktifitas di dalam yayasan. Demikian juga disadari betul, bahwa yayasan yang akan didirikan itu, bukanlah saingan untuk yayasan atau institusi yang sudah ada, melainkan sebagai sebuah yayasan yang terbuka untuk bekerja sama dan saling mendukung, baik dengan pemerintah daerah Nias maupun dengan lembaga-lembaga dan institusi-institusi yang sudah ada di Nias. Itulah beberapa gambaran dan cita-cita serta visi dimana yayasan ini kelak akan dijalankan.

Dalam pertemuan-pertemuan berikut, kelompok diskusi ini sempat menyusun proposal peternakan babi yang akan dilaksanakan di Nias, yang kelak nanti akan menjadi pekerjaan awal dari yayasan tersebut, diperkirakan akan memelihara babi dengan induk sekitar 50 ekor dan penjantan secukupnya. Namun, pada akhirnya proposal itu memang tidak pernah bisa diimplementasikan, karena tidak berhasil didapatkan donor yang mau mendanai, yang pada saat itu angkanya mencapai 1.5 miliar rupiah.
Dalam satu pertemuan terakhir di rumah W. Gulö di Salatiga, sebelum Dalibudi Harefa kembali ke Nias, karena telah menyelesaikan studi pasca sarjananya di UKSW Salatiga, akhirnya yayasan yang sudah dirancang ini harus diberi nama. Saat itu, Dalibudi Harefa mengusulkan nama Yayasan Ya’ahowu, W. Gulö mengusulkan Yayasan Howuhowu, dan Octhavianus Harefa mengusulkan Yayasan Holi’ana’a, usul yang terakhir inilah yang akhirnya disepakati karena mendapat dukungan dari Asaria Mendröfa, (istri W. Gulö), yang pada saat itu juga ikut mendengar percakapan dan diskusi yang sedang berlangsung, dan akhirnya beliau merasa lebih setuju jika nama Holi’ana’a yang dipakai. Karena nama-nama lain sudah duluan dipakai oleh organisasi lain yang sudah ada di Nias. Namun kesepakatan ini masih bersifat sementara, karena harus dibawa dalam diskusi dengan sejumlah orang yang ada di Nias yang memiliki visi dan pikiran yang sama, sekaligus juga akan ikut dalam proses pendirian yayasan tersebut.

Segera setelah komitmen untuk mendirikan Yayasan Holi’ana’a ini tersimpulkan, maka walaupun pendiriannya masih belum diaktanotariskan, namun ada dua pertemuan dengan pihak lain yang dilakukan untuk mencari dukungan, yaitu dengan YBKS (Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial) di Surakarta, dan Sinode GKT (Gereja Kristus Tuhan) di Malang, Jawa Timur. Dalam pertemuan dengan YBKS, yang dilaksanakan sekitar bulan Agustus 1995, saat itu dihadiri oleh W. Gulö dan Dalibudi Harefa, bertemu dengan Yosef Widyatmaja dari YBKS Surakarta dan Joko dari YPL (Yayasan Pamerdi Luhur), Jepara. Pertemuan diakhiri dengan kesediaan YBKS dan YPL untuk menerima calon-calon staf yang akan dikirim dari Nias untuk dilatih dan diberdayakan di YBKS dan YPL, sekaligus juga ada himbauan untuk membuat rencana program mendesak yang anggarannya kurang lebih 50 juta rupiah untuk dicarikan donor oleh YBKS Surakarta, (walaupun akhirnya janji ini tidak terwujudkan sepenuhnya, karena berbagai kendala), namun diwujudkan dalam bentuk beberapa kegiatan kerjasama, seperti terlihat dalam bagian lain buku ini, khususnya yang membahas tentang aktivitas yayasan.

Pertemuan dengan Sinode GKT di Malang, Jawa Timur, yang dilaksanakan sekitar Oktober 1995, dihadiri oleh Dalibudi Harefa dan Octhavianus Harefa, bertemu dengan sekretaris sinode GKT dan juga anggota majelis sinodenya. Intinya, mereka mau membantu untuk melatih calon-calon staf Yayasan Holi’ana’a terutama di bidang pertanian tanaman muda. Pada awal-awal kerjasama ini nanti, diwujudkan dalam bentuk mereka mengirim seorang tenaga dari Jawa Timur untuk bekerjasama dengan Yayasan Holi’ana’a di Nias dan Yayasan Holi’ana’a mengirim 3 orang calon staf untuk dilatih di tempat-tempat pelatihan yang difasilitasi oleh sinode GKT.
Walaupun kedua institusi tersebut tidak mengikat perjanjian apa-apa, namun secara prinsip mereka memiliki keinginan besar untuk membantu masyarakat Nias, sambil mereka meminta agar Yayasan Holi’ana’a membuat rencana kerja, sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap; sehingga mereka dapat membantu dalam satu atau dua hal yang mungkin mereka bantu dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Sambil berjalan beberapa kunjungan tersebut, Octhavianus Harefa ditugaskan untuk mempersiapkan rancangan AD/ART yayasan yang akan didirikan tersebut; dengan membandingkan dan mengadopsi beberapa contoh AD/ART yayasan-yayasan lain yang sudah berdiri, seperti YBKS Surakarta dan yayasan-yayasan lainnya. Itulah modal awal yang sudah diprakarsai dari Jawa, yang merupakan cikal-bakal konkret dari pendirian Yayasan Holi’ana’a.

2. LAHIR DAN MERANGKAK: Periode 1996-1999

Berangkat dari rancangan sederhana dan juga calon nama yang sudah disepakati sebelumnya itulah, akhirnya Dalibudi Harefa kembali ke Nias dan sekaligus dipercaya untuk mencari dan berkomunikasi lagi orang-orang Nias yang mau bergabung dan punya visi serta cita-cita yang sama dengan apa yang sudah terdiskusikan selama ini. Tanpa disangka, dalam pertemuan pertama mereka yang ada di Nias di rumah dinas bapak Fas. Harefa, di Jl. Karet, Gunungsitoli, sekitar bulan Mei-Juni 1996; yang dihadiri oleh Fas. Harefa, Silvester Lase, FG. Marthin Zebua, Dalibudi Harefa, dan beberapa orang lainnya, mereka berhasil menyepakati hal penting, yaitu bahwa yayasan yang akan didirikan tersebut sepakat dengan hasil pertemuan dari Salatiga, diberikan nama Yayasan Holi’ana’a, dengan pertimbangan budaya, yang dapat dikisahkan seperti berikut ini;

“disadari bahwa, dalam mitologi masyarakat Nias, teteholi’ana’a, adalah sebuah tempat yang damai, adil, makmur; karena dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana, yang memiliki 9 orang anak laki-laki. Suatu ketika, karena raja sudah semakin tua, maka kesembilan anaknya lagi-laki ini berebut untuk menjadi penggantinya sebagai raja.
Akhirnya, dalam kebijaksanaan, sang raja mengambil keputusan untuk menanjakkan burusa, (tombak) di tengah-tengah halaman istananya, dan mengumumkan kepada anak-anaknya, bahwa siapa yang bisa naik, dan berdiri serta menari di atas burusa itu, dialah anak yang akan dinobatkan sebagai raja, penerus kepemimpinan di atas teteholi’ana’a. Anak pertama sampai ke delapan, dengan mengandalkan kekuatan dan keahlian serta fisik mereka yang telah terlatih, mencoba naik ke atas burusa, tetapi satu-persatu jatuh, tidak berhasil berdiri di atas burusa! Namun anaknya yang terakhir, Luo Mewöna, sebelum mencoba memancat burusa, dia datang kepada ayah dan ibunya untuk sujud-sembah memohon doa restu, dan berkat dari kedua orangtuanya; kemudian, dia memanjat burusa, langkah demi langkah, tangannya lengket dan kokoh tidak licin menaiki burusa, sampai akhirnya dia berhasil berdiri dan menari di atas burusa, sehingga akhirnya dialah, Luo Mewöna yang dinobatkan sebagai pengganti raja. Sejak itu, karena kepemimpinannya yang baik, jujur dan bijaksana, maka kerajaan teteholi’ana’a terkenal dengan kesejahteraan dan kejayaannya, di bawah kepemimpinan Luo Mewöna. Dari sanalah seperi diayakini oleh leluhur orang-orang Nias, kehidupan dan tatanan serta kebudayaan Nias berasal, karena itu ideal-ideal kehidupan di teteholi’ana’a menjadi cita-cita terbaik dan luhur yang dikejar dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Nias”.

Berdasarkan itulah juga, nama Yayasan Holi’ana’a, yang diambil dari nama teteholi’ana’a tersebut, dimaksudkan agar bisa mewujudkan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera itu di tengah-tengah masyarakat Nias saat itu dan di tahun-tahun yang akan datang, sehingga terwujudlah damai, keadilan dan kesejahteraan bagi segenap lapisan masyarakt Nias.

Ada banyak warga Nias yang berpendidikan juga ikut mendukung dan mau bergabung dalam rencana pendirian Yayasan Holi’ana’a ini, antara lain: Silvester Lase, F.G. Marthin Zebua, FAS Harefa, S. Mendröfa, Agustinus Zega, Elemonoku Telaumbanua, Sarofati Gea dan Murniwati Larosa.
Hanya dalam waktu beberapa bulan pemantapan rencana AD/ART, akhirnya disepakati bahwa untuk kepengurusan awal yang ikut dicantumkan dalam akte notaris, susunan kepengurusan Yayasan Holi’ana’a adalah sebagai berikut: Dewan Pendiri: W. Gulö, Silvester Lase, F.G. Marthin Zebua, FAS Harefa, dan S. Mendröfa. Sedangkan untuk Badan Pengurus, Dalibudi Harefa, (Ketua), Sarofati Gea, (Sekretaris), dan Murniwati Larosa (Bendahara) dan Agustinus Zega, Elemonoku Telaumbanua, Octhavianus Harefa (Sebagai Anggota), pada saat itu, modal awal yang telah dikumpulkan oleh para pendiri dan pengurus berjumlah Rp. 740,000,- (tujuh ratus empat puluh ribu rupiah).-

Berdirinya Yayasan Holi’ana’a, (seterusnya disingkat YH), ditandai dengan keluarnya akta notaris No. 2 tanggal 17 Juli 1996 di Gunungsitoli, dan sejak itu diingat sebagai tanggal, bulan dan tahun berdirinya YH. Seterusnya dilakukan pendaftaran di Dinas Sosial Kabupaten Nias, dan YH terdaftar sebagai sebuah organisasi sosial aktif di Kabupaten Nias dengan Nomor Urut: 16. Langkah berikutnya adalah, melakukan penyewaan kantor pertama yang terletak di Jl. Cengkeh No. 36, disewa selama 2 tahun dan mulai ditempati pada bulan April 1997. Pada saat itu juga direkrutlah dua orang staf: Sadarman Zega sebagai staf lapangan untuk pertanian, dan Isa Mitra Zebua sebagai staf administrasi, sekaligus juga tenaga di KSU Teteholi, (sebuah koperasi serba usaha yang pendiriannya diprakarsai oleh YH).

Seiring dengan berjalannya waktu, dan beberapa pertemuan dengan pihak-pihak lain yang telah dirintis sebelumnya di Solo dan Jawa Timur, di akhir tahun 1997, YH mengutus beberapa orang untuk berlatih dan dilatih di berbagai tempat dan berbagai bidang keahlian, dengan harapan setelah mereka selesai pelatihan dan pulang kelak di Nias, akan berkontribusi dalam perwujudan visi dan misi YH.

Beberapa orang yang diutus oleh YH di tahun-tahun awal ini adalah:
a. Pdt. L. Waruwu, S.Th dan Yulitema Gea, mengikuti Latihan Diakonia Masyarakat (LDM) yang diadakan oleh Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) di Surakarta selama 1 bulan penuh.
b. Open Herman Gea dan Sökhiwolo’ö Harefa diutus untuk mengikuti orientasi pertanian organik dan peternakan ayam selama 2 bulan di PUSPA-INRI Tawangmangu dan Desa Sroyon Karanganyar, Surakarta, yang difasilitasi oleh YBKS.
c. YH mengutus 6 orang ke Sinode GKT Malang, untuk dilatih dalam berbagai keterampilan dan magang di Perusahaan Karoseri Adiputro Blimbing untuk teknik otomotif. Mereka itu adalah: Asafo Waruwu, Fati’eli La’ia, Syukurli Zega. Dan dua orang lagi adalah Sadarman Zega dan Aronia Zendrato dilatih dalam bidang pertanian di Batu Malang. Terakhir Fonaha Zai dilatih juga dalam hal pertanian di daerah Purwosari Pasuruan. Mereka tiba di Jawa timur tanggal 14 Oktober 1997 dan berlatih selama 6 bulan penuh. Semuanya mereka difasilitasi oleh Sinode GKT.

Di masa awal ini, selain mengutus kader-kader untuk dipersiapkan sebagai staf dan karyawan YH ke depan, pengurus memutuskan untuk memulai tiga hal, yaitu; Pertama, membuat kebun percontohan cabe di desa Dahana yang luasnya kurang lebih 0.15 ha yang dipinjamkan oleh bapak FAS HAREFA, salah seorang dewan pendiri YH. Kebun percontohan ini dimulai sejak bulan Maret 1997, dan didanai dari uang pangkal YH yang telah dikumpulkan sebelumnya oleh pendiri dan pengurus. Kedua, sambil kebun cabe percontohan berjalan, calon-calon staf sedang diutus ke berbagai pelatihan, maka untuk mensosialisasikan YH kepada masarakat Pulau Nias, pengurus memutuskan untuk bekerjasama dengan LPMI Jakarta dalam rangka pemutaran film layar tancap, dengan judul; Jesus of Nazareth.

LPMI Jakarta mengutus 2 orang staf untuk melaksanakan pemutaran film ini di Nias, sementara YH bertugas untuk memfasilitasi perjalanan, dan juga negosiasi dengan jemaat-jemaat yang berminat untuk menghadirkan film ini di jemaat mereka. Saat itu, YH hanya meminta satu kali kolekte dikumpulkan dan diserahkan sepenuhnya kepada tim film ini untuk digunakan sebagai biaya operasional. Program ini cukup berhasil, banyak jemaat yang meminta agar tim ini datang ke tempat mereka untuk memutarkan film tersebut. Program ini berjalan selama bulan April sampai dengan Juni 1997.

Ketiga, pendirian KSU TETEHOLI yang salah satu usaha utamanya adalah simpan-pinjam. Pada saat itu, KSU ini diketuai oleh Pdt. Sarofati Gea, dan Octhavianus Harefa sebagai sekretaris serta Dalizokhö Gea sebagai bendahara. Anggota koperasi sudah ada sekitar 30-an orang dengan modal terkumpul sekitar Rp. 9.000.000,- (sembilan juta rupiah). Koperasi ini berjalan selama beberapa tahun, namun sejak sekretaris meninggalkan Nias pada tahun 2000 untuk studi lanjutan di Yogyakarta, administrasi semuanya ditangani oleh ketua dan bendahara. Namun, mulai tahun 2004 akhirnya koperasi ini macet dan tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Menurut keterangan pengurus, uang banyak tertahan di tangan anggota peminjam, terutama jumlah besarnya oleh bendahara sendiri. Dalam laporan terakhir pengurus koperasi kepada badan pengurus YH tahun 2006 yang lalu, pengurus masih sedang berusaha untuk menagih piutang-piutang koperasi dan akan dilaporkan selanjutnya kepada pengurus YH di masa yang akan datang.

Memasuki tahun 1998, dimana sebagian calon-calon staf sudah kembali di Nias, dan juga telah dikirimkannya seorang tenaga ahli pertanian tanaman muda oleh GKT (Gereja Kristus Tuhan) dari Malang ke Nias, pengurus YH memutuskan untuk mengolah lahan di Telukbelukar dengan luas kurang lebih 1 hektar. Di situlah Selamat dan Sadarman Zega, tinggal untuk mengurus dan mengatur pengolahan lahan percontohan tersebut. Cabe dan kacang panjang adalah komoditi awal yang ditanam di lahan ini, dan baru kemudian dikembangkan dengan penanaman semangka dan tanaman-tanaman lainnya.

Untuk memulai pengolahan lahan di Telukbelukar ini, pengurus YH mengumpulkan uang dengan status pinjaman sebesar kurang lebih Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah), dan diserahkan kepada Selamat secara bertahap. Pengurus YH, secara bergiliran dijadwal untuk mengawasi dan memonitor proses di lahan ini, sehingga apa yang terjadi dapat diketahui lebih awal. Panen cabe dan kacang panjang cukup berhasil; sayangnya proses penjualan hasil ke pasar di Gunungsitoli, tidak terawasi dengan baik, sehingga laporan tentang hasil, pada akhirnya tidak jelas, sehingga modal yang sudah dikeluarkan, tidak bisa dikembalikan. Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi pengurus dan seluruh komponen YH, bahwa pengawasan sangat penting, tidak boleh diabaikan, hanya dengan begitu, program dapat diharapkan berjalan dengan baik dan sukses.

Namun demikian, dalam proses pengolahan dan penanaman serta pemeliharaan kebun percontohan ini, sengaja melibatkan sebanyak mungkin masyarakat di sekitar lokasi, dengan harapan bahwa masyarakat belajar banyak tentang tahapan dan perlakukan terhadap tanaman dengan baik, sehingga suatu saat nanti mereka sendiri dapat mengolah lahan mereka sendiri. Dari aspek ini, kebun percontohan tersebut cukup berhasil; banyak keluarga di sekitar lokasi pada akhirnya juga mereka mengolah lahan mereka sendiri, seperti proses dan tahapan yang telah mereka lihat di lahan percontohan YH.
Karena kegagalan untuk mengembalikan modal awal ini, akhirnya juga bapak Selamat, staf ahli yang diutus dari Jawa Timur dan difasilitasi oleh GKT, memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan YH, namun juga tidak kembali ke Jawa Timur. Dia menyewa lahan penduduk di sekitar lokasi lahan percontohan ini, dan meneruskan sendiri usaha pertanian tanaman muda miliknya sendiri. Sampai saat ini, bapak Selamat masih ada di Nias, dia menjual buah-buahan, semangka dan mangga melalui mobil pick-up, biasanya mangkal di sekitar kota Gunungsitoli. Demikian juga dengan Sadarman Zega, karena ketidakcocokannya dengan bapak Selamat, akhirnya memutuskan untuk keluar dari YH, dan menjalankan usahanya sendiri di kampungnya di Hilinduria.

 

 

Bagikan artikel ini