Penguatan Petani
Kelompok Tani dari Kab Nias Barat belajar pertanian organik di LTC - YH
Penguatan Perempuan
Salah satu lahan sayuran perempuan dampingan YH di Kota Gunungsitoli
Kesiapsiagaan Bencana
YH memberikan pelatihan First Aid kepada pelajar dari 3 Kab/Kota dalam rangka peringatan 10 tahun gempa bumi Nias
Adaptasi Perubahan Iklim
Para stakeholder pembangunan mendapatkan pelatihan mitigasi-adaptasi Perubahan Iklim di LTC - YH
Prakerin Pertanian Organik
Para siswa prakerin berlatih isu-isu lain di YH, di samping ilmu pertanian dan peternakan, atas support dari sekolah dan orang tua siswa.
Kredit Mikro
Kantor KSP Yateholi, di Desa Gawugawu Bouso km 11,4 Gunungsitoli Utara Kota Gunungsitoli.
Tentang Kami
Pembina, Pengawas, Pengurus dan Pelaksana YH dalam Rapat Tahunan Yayasan 2015.

AD/ART Yayasan Holi'ana'a

 NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

 

  1. Yayasan ini bemama YAYASAN HOLI’ANA’ A

selanjutnya dalam anggaran dasar ini cukup disingkat dengan Yayasan, berkedudukan dan berkantor Pusat di Desa Gawu-gawu Bo’uso Kilometer 11,4, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli

 

  1. Yayasan dapat membuka kantor cabang atau perwakilan ditempat. lain, baik di dalam maupun di luar wilayah Negara Republik Indonesia    berdasarkan keputusan Pengurus dengan persetujuan Pembina.                                              

 

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2.

 

Yayasan mempunyai maksud dan tujuan di bidang

   a. Sosial

   b. Kemanusiaan

   c. Keagamaan

 

KEGIATAN

Pasal 3.

 

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Yayasan dapat melaksanakan kegiatan sebagai benkut :

  1. Di bidang Sosial meliputi :
    1. Melakukan Pemberdayaan ekonomi dan Pemberdayaan perempuan;
    2. Lembaga formal dan nonformal mulai dan sekolah tingkat kelompok bermain/taman kanak-kanak, Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas maupun Sekolah Kejuruan Sampai kepada Perguruan Tinggi, Politehnik, Sekolah Tinggi Akademi, sekolah lemah mental dan yang lanjut usia, kursus-kursus keterampilan, Kewirausahaan dan Rumah Pintar
    3.  Rumah Sakit, Poliklinik, Klinik, dan Laboratorium
    4. Penelitian dibidang Ilmu Pengetahuan
    5. Melakukan Advokasi dan Perlindungan Konsumen
    6. Melestankan lingkungan hidup
    7. Mendinkan Perpustakaan, taman bacaan
    8. Mendirikan rumah yatim piatu (panti asuhari), Panti Jompo dan Panti Wreda, pusat rehabilitasi dan anak-cacat/lemah menta1 
    9. Memberikan dan atau menyalurkan Bea Siswa
  2. Dibidang Kemanusiaan meliputi;
  3.  Memberikan bantuan kepada korban bencana alam
  4. Membenkan bantuan kepada tuna wima fakir miskin dan gelandangan.
  5. memberikan bantuan kepada pengungsi akibat konflik sosial dan        perang 
  6. mendirikan dan menyelenggarakan rumah singgah dan rumah duka.

 

JANCKA WAKTU

Pasal 4.

Yayasan ini didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan  lamanya.

 

KEKAYAAN

Pasal 5.

  1. Yayasan mempunyai kekayaan awal yang berasal dan kekayaan pendiri    yang dipisahkan terdiri dari uang tunai sebesar Rp. 1OO.OOO.OOO    (seratus juta rupiah)
  2. Selain kekayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kekayaan     yayasan dapat Juga diperoleh dengan:
    1. Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat
    2. Wakaf
    3. Hibah
    4. hibah wasiat; dan
    5. perolehari lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar Yayasan dan atau peraturan perundang - undangan yang    berlaku
  3. Semua kekayaan Yayasan harus dipergunakan untuk mencapai maksud    dan tujuan yayasan.

 

ORGAN YAYASAN

Pasal 6

Yayasan mempunyai organ yang terdiri dari

  1. Pembina
  2.  Pengurus
  3. Pengawas    

 

PEMBINA

Pasal 7

  1. Pembina adalah organ yayaan yang mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada Pengurus atau Pangawas.
  2. Pembina terdin dan seorang atau lebih anggota Pembina.
  3. Dalam hal terdapat lebih dari seorang anggota Pembina maka seorang  diantaranya diangkat sebagai Ketua Pemibina.
  4. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pembina adalah orang    perseorangan sebagai pendiri yayasan dan atau mereka yang     berdasarkan keputusen rapat anggota Pembina dinilai mempunyai      dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan
  5.  Anggota Pembina tidak diben gaji dan atau tunjangan oleh  yayasan
  6. Dalam hal yayasan oleh karena sebab apapun tidak mempunyai anggota Pembina, maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya   kekosongan tersebut wajib diangkat anggota Pembina berdasarkan     keputusan rapat gabungan anggota Pengawas dan anggota Pengurus
  7. Seorang anggota Pembina berhak mengundurkan diri dari  jabatannya  dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersabut kepada yayasan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sabelum  tanggal pengunduran dirinya.

 

Pasa1 8

  1. Masa jabatan pembina tidak ditentukan lamanya.
  2. Jabatan anggota Pembina akan brrakhir dengan sendirinya  apabi1a    anggota Pembina terebut
    1. meningga1 dunia
    2. mengundurkan diri dengan pembentahuan secara tertulissebagaimana diatur dalam pasal 7 ayat (7)
    3. tidak  lagi memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku
    4. diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina
    5. dinyatakan pailit atau ditaruh dibawah pangampuan          berdasarkan suatu penetapan Pengadilan
    6. dilarang untuk menjadi anggota Pembina karena peraturan          perundang - undangan yang berlaku

 

  1.  Anggota Pembina tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus     dan atau anggota Pengawas

 

TUGAS DAN WEWENANG PEMBINA

Pasal 9

  1. Pembina berwenang bertindak untuk dan atas nama Pembina
  2. Kewenançan Pembina meliputi
    1. keputusan mengenai perubahari Anggaran Dasar
    2. pengangkatan dan pemberhentian arggota  Pengurus dan anggota   Pengawas
    3. penetapan kebijakan umum Yayasan berdasarkan Anggaran dasar yayasan
    4. pengesahari program kerja dan rancangan Anggaran Tahunan         Yayasan  dan
    5. penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran  Yayasan
    6. Pngesahan laporan tahunan
    7. Penunjukan likuidator dalam hal yayasan dibubarkan
  3. Dalam hal hanya ada seorarg anggota Pembina, maka segala tugas dan  wewenang yang diberikan kepada Ketua Pembina atau anggota     Pembina berlaku pula baginya

 

RAPAT PEMBINA

 

Pasal i0

 

  1. Rapat Pembina diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun paling lambat dalam waktu 5 (lima) bulan setelah akhir tahun buku sebagai rapat tahunan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 12, Pembina  dapat ]uga   mengadakan Rapat setiap waktu bila dianggap perlu atas permintaan  tertulis dari seorang atau lebih anggota Pembina, anggota Pengurus  atau   anggota Pengawas.
  2. Panggilan Rapat Pembina dilakukan oleh Pembina secara  langsung atau  melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan dengan tidak memperhitungkan  tanggal     panggilan dengan tanggal rapat
  3. Panggilan rapat harus mencantumkan  hari, tanggal, waktu,I tempat dan    acara rapat
  4. Rapat Pembina diadakan di tempat kedudukan Yayasan, atau  di tempat kegiatan Yayasan, atau di tempat lain dalam wilayah  hukum  Republik Indonesia.
  5. Dalam hal semua anggota Pembina hadir, atau diwakili,  panggilan     tersebut tidak disyaratkan dan Rapat Pembina  dapat diadakan    dimanapun juga  dan berhak mengambil keputusan yang sah dan    menigikat  
  6. Rapat Pembina dipimpin oleh Ketua Pembina, dan jika Ketua  pembina    tidak hadir atau berhalangan, maka Rapat Pembina dipimpin oleh    seorang yang dipilih oleh dan dari anggota Pembina yang hadir.
  7. Seorang anggota Pembina hanya dapat diwakili  oleh anggota Pembina    lainnya dalam Rapat Pembina berdasarkan surat kuasa. 

 

Pasal 11

 

  1. Rapat Pembina adalah sah dan berhak mengambil keputusan  yang     mengikat apabila:
    1. Dihadiri paling sedikit dua pertiga dari jumlah  anggota Pembina
    2. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam syat (1) huruf a tidak tercapai maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pembina kedua
    3. Pemanggiilan sebagaimana dimaksud dalam nyat (1) huruf b harus        dilakukan  paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat
    4. Rapat Pembina kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling lambat  21 (dua puluh satu)  hari terhitung sejak Rapat   Pembina pertama. Rapat Pembina kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan  yang mengikat apabila dihadiri lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah enggota  Pembina 
  2. Keputusan Rapat Pembina diambil berdasarkan musyawarah  untuk    mufakat .
  3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak     tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari 1/2    (satu perdua) jumlah suara yang sah
  4. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya maka usul     ditolak 
  5. tatacara pemungutan suara dilakukan sebagai berikut
    1. Setiap anggota Pembina yang hadir berhak mengeluarkan1 (satu)         suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap anggota Pembina lain  yang diwakilinya
    2. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan  surat suara tertutup tanpa tandatangan, sedangkan pemungutan suara mengenai hal-hal lain dilakukan secara terbuka dan ditandatangani, kecuai Ketua Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir
    3. Suara yang abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam          menentukan jumlah suara yang di keluarkan
  6. Setiap Rapat Pembina dibuat berita acara yang ditandatangani oleh     ketua rapat dan sekretaris rapat.
  7. Penandatanganan  sebagaimana dimaksud dalam ayat 6 (enam) tidak    disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akta notanis .
  8. Pembina dapat mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan     Rapat Pembina, dengan ketentuan semua anggota  Pembina telah     diberitahukan secara tertulis dan semua anggota Pembina  memberikan    persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta     menandatangani  persetujuan tersebut.
  9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (8),     mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil      dengan sah dalam Rapat Pembina.
  10. Dalam hal hanya ada satu orang Pembina, maka dia dapat mengambil      keputusan yang sah dan mengikat.

 

RAPAT TAHUNAN

 

Pagal 12

 

  1. Pembina wajib menyelenggarakan rapat tahunan setiap tahun, paling    lambat 5 (lima) bulan setelah tahun buku Yayasan ditutup.
  2. Dalam rapat tahunan, Pembina melakukan
  3. evaluasi tentang harta kekayaan, hak dan kewajiban Yayasan tahun         yang lampau sebagai dasar pertimbangan  bagi  perkiraan mengenai        perkembangan Yayasan untuk tahun yang akan datang
  4. Pengesahan Laporan Tahunan yang diajukan Pengurus
  5. Penetapan kebijakan umum Yayasan
  6. Pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan       Yayasan.
    1. Pengesahan Laporan tahunan oleh Pembina dalam Rapat tahunan    berarti memberikan pelunasan dan pembebasan tanggungjawab    sepenuhnya (acguit et decharge) kepada para anggota Pengurus dan    Pengawas atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan    selama tahun buku yang lalu, sejauh tindakan tersebut tercermin dalam    Laporan Tahunan

 

PENGURUS

 

Pasal 13

 

  1. Pengurus adalah organ yayasan yang melaksanakan kepengurusan yayasan yang sekurang - kurangnya terdiri dari :
    1. Seorang Ketua
    2. Seorang Sekretar±s; dan
    3. Seorang Bendahara 
  2. Dalam hal diangkat lebih dan 1 (satu) orang Ketua, maka 1 (satu) orang    diantaranya diangkat sebagai Ketua Umum
  3. Dalam hal diangkat lebih dan 1 (satu) orang Sekretaris, maka 1 (satu)    orang diantaranya diangkat sebagai Sekretaris Umum
  4. Dalam hal diangkat lebih dan 1 (satu) orang Bendahara. maka 1 (satu)     orang diantaranya diangkat sebagal Bendahara Umum.

 

Pasal  l4

 

  1. Yang dapat diangkat sebagai anggota pengurus hanyalah orang    perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak    dinyatakan bersalah dalam melakukan pengurusan Yayasan yang    menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat, Negana berdasarkan  keputusan pengadilan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak    tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
  2. Pengurus diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk  jangka    waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali
  3. Pengurus dapat menerima gaji, upah atau honorarium apabila Pengurus    Yayasan :
    1. bukan pendini Yayasan dan tidak terafiliasi dengan Pendiri, Pembina,        dan Pengawas; dan
    2. melaksanakan kepengurusan Yayasan secara langsung dan penuh
  4. Dalam hal jabatan Pengurus kosong, maka dalam jangka waktu paling    lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus    menyelenggarakan rapat untuk  mengisi kekosongan itu
  5. Dalam hal semua jabatan Pengurus kosong, maka dalam jangka waktu    paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut    Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat Pengurus    baru, dan untuk sernentara Yayasan diurus oleh Pengawas
  6. Pengurus  berhak mengundurkan diri dari jabatannya, dengan     memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya  tersebut  kepada    Pembina, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelurn tanggal    pengunduran dirinya
  7. Dalam hal terdapat penggantian Pengurus Yayasan, rnaka dalam jangka   waktu paling lambat. 30 (tiga puluh) heri  terhitung sejak tanggal dilakukan penggantian pengurus Yayasan, Pengurus yang menggantikan wajib menyarnpaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum  Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan intansi terkait
  8. Pengurus tidak dapat merangkap sebagai Pernbina, Pengawas  atau     Pelaksana Kegiatan.

 

Pasal 15

 

Jabatan Anggota Pengurus berakhir apabila :

 

  1. Meninggal dunia
  2. Mengundurkan diri
  3. Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putuaan pengadilan    yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun
  4. Diberhentikan berdasarkan keputuaan Rapat Pembina
  5. Masa  jabatan berakhir

 

TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS

 

Pasal 16

 

  1. Pengurus bertanggung jawab penuh atas kepengurusan Yayasan    Untuk kepentingan Yayasan.
  2. Pengurus wajib menyusun program kerja dan rancangan anggaran    tahunan Yayasan untuk disahkan Pernbina,.
  3. Pengurus wajib memberikan pejelasan tentang segala hal yang    ditanyakan oleh Pengawas.
  4. Setiap anggota Pengurus wajib dengan itikad baik dan penuh  tanggung    jawab menjalankan tugasnya dengan rnengindahkan peraturan    perundang - undangan yang berlaku
  5. Pengurus berhak mewakili Yayasan di dalarn dan di luar Pengadilan    tentang segala hal dan dalarn segala kejadian1dengan pembatasan   terhadap hal - hal sehagai berikut:
  6. Perbuatan Pengurus sebagaimana diatur dalam ayat (5) huruf      a,b,c,d,e,dan f harus rnendapat persetujuan dari pernbina

 

  1. meminjam atau rneminjamkan uang atas nama Yayasan (tidak termasuk mengambil uang Yayasan di Bank)
  2. mendirikan suatu usaha baru atau melakukan penyertaan dalam        berbagai bentuk usaha baik di dalarn maupun di luar negeri
  3.  memberi atau menerima pangalihan atas harta tetap
  4.  mernbeli atau dengan cara lain rnendapatkan/memperoleh harta       tetap atas nama Yayasan
  5. menjual atau dengan cara lain melepaskan kekayaan Yayasan serta        rnengagunkan/membebani kekayaan Yayasan
  6. mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi dengan       Yayasan, Pembina, Pengurus dan atau Pengawas Yayasan atau seorang yang bekerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut bermanfaat bagi  tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.

 

Pasal 17.

 

Pengurus tidak benwenang rnewakili Yayasan dalam hal :

 

  1. Mengikat Yayasan sebagai penjamin utang
  2. Membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak lain
  3. Mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi denan   Yayasan, Pernbina, pengurus dan atau Pengawas Yayasan atau    seseorang yang bekera pada Yayasan, yang perjanjian tersebut tidak ada   hubungan bagi tercapainya  maksud dan tujuan Yayasan.

 

Pasal 18

 

  1. Ketua Umum bersarna-sarna dengan salah seorang anggota pengurus     lainnya berwenang bertindak untuk dan atas narna pengurus serta    mewakili Yayasan
  2. Dalarn hal Ketua Umurn tidak hadir atau berhalangan karena sebab    apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan  kepada pihak ketiga,     maka seorang Ketua lainnya bersarna-sama dengan Sekretaris Umum    atau apabila Sekretanis Urnum  tidak hadir atau berhalangan karena    sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada pihak    ketiga,  seorang Ketua lainnya bersama-sama dengan seorang  Sekretaris  lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta  mewakili Yayasan.
  3. Dalam hal hariya ada seorang Ketua, maka segala tugas dan wewenang  yang diberikan kepada Ketua Urnum berlaku juga baginya.
  4.  Sekretaris Umurn bertugas rnengelola administrasi Yayasan dalam hal    hariya ada seorang Sekretaris, maka segala tugas dan wewenang yang    diberikan kepada Sekretaris Umum berlaku juga baginya.
  5. Bendahara Urnurn bertugas mengelola keuangan Yayasan, hal hariya ada seorang Bendahara, rnaka segala tugas dan wewenang  yang diberikan  kepada Bendahara Umurn berlaku juga baginya.
  6. Pembagian tugas dan wewenang setlap anggota Pengurus tetapkan oleh Pembina  meiaiui Rapat Pembina.
  7. Pengurus untuk perbuatan tertentu berhak mengangkat seorang atau lebih wakii atau kuasanya berdasarkan surat kuasa.

 

PELAKSANA KEGIATAN

 

Pasal 19

 

  1. Pengurus berwenang mengangkat dan memberhentikan Pelaksana    Kegiatan Yayasan berdasarkan keputusan Rapat  Pengurus.
  2. Yang dapat diangkat sebagai Pelaksana Kegiatan Yayasan  adalah     orang perseorangan yang mampu melakukan perbuatan  hukum dan    tidak pernah dinyatakan pailit atau dipidana  karena melakukan tindakan yang merugikan Yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan   keputusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak   tanggai putusan tersebut berkekuatan hukurn tetap.
  3. Pelaksana Kegiatan Yayasan diangkat oieh Pengurus berdasarkan    keputusan Rapat Pengurus untuk  jangka waktu 3 (tiga) tahun dan dapat    diangkat kembali dengan tidak mengurangi keputusan Rapat Pengurus    untuk memberhentikan  sewaktu waktu.
  4. Pelaksana Kegiatan Yayasan bertanggungjawah kepada Pengurus.
  5. Peiaksana Kegiatan Yayasan rnenerima gaji, upah, atau honorarium yang    jumiahnya ditentukan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus.

 

Pasai 20

 

  1. Dalam hal terjadi perkara di pengadiian antara Yayasan dengan anggota Pengurus atau apabila kepentingan pribadi seorang anggota Pengurus  bertentangan dengan Yayasan, maka anggota Pengurus yang bersangkutan tidak berwenang  bertindak untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan, maka anggota Pengurus lainnya bertindak untuk  dan atas nama Pengurus serta mewakili Ygyasan.
  2. Dalam hal Yayasan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan seluruh Pengurus, maka Yayasan diwakili oleh Pengawas.

 

RAPAT PENGURUS

 

Pasal 21

 

  1. Rapat Pengurus dapat diadakan setiap waktu bila dipandang perlu atas    permintaan tertulis dari seorang atau lebih  anggota Pengurus, Pengawas    atau Pembina.
  2. Penggilan untuk Rapat Pengurus dilakukan oleh Pengurus  yang berhak    mewakili Pengurus.
  3. Panggilan Repat Pengurus disampaikan kepada setiap anggota Pengurus   secara langsung  atau melalui surat dengan mendapat tanda tenima paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan dengan tidak   mamperhitungkan  tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  4. Panggilan Rapat Pengurus itu harus mencantumkan tanggal, waktu,     Tempat  dan acara rapat.
  5. Rapat Pengurus diadakan di tempat kedudukan Yeyasan atau  di tempet   kegiatan Tayasan.
  6. Rapat Pengurus dapat diadakan di tempat lain dalam  wilayah Republik    Indonesia dengan persetujuan Pembina.

 

Pasal 22

 

  1. Rapat Pengurus dipimpin oleh Ketua Umum.
  2. Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau berhalangan maka Rapat Pengurus akan dipimpin oleh seorang anggota pengurus yang dipilih oleh dan dari Pengurus yang hadir.
  3. Satu orang Pengurus hariya dapat diwakili oleh Pengurus lainnya dalam   Rapat Pengurus berdasarkan surat kuasa.
  4. Rapat Pengurus sah dan berhak merigambil keputuan yang mengikat    Apabila:
    1. dihadiri paling sedikit  2/3 (dua pertiga) jumlah Pengurus.
    2. dalarn hal korum sebagai dimaksud dalam ayat (4) huruf a tidak        tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengurus kedua.
    3. pemanggilan sebagaimana  yang dimaksud delam ayat (4) huruf b,        harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari  sebelurn  rapat        diselenggarakan, dengan tidak mernperhitungkan tanggal panggilan        dan tanggal rapa
    4. Rapat Pengurus kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari        dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari tenhitung sejak Rapat        Pengurus pertama.

 

  1. Rapat Pengurus kedua sah dan berhak mengambil keputusan yang        mengikat apabila dihadiri lebih dari ½ (satu perdua) jurnlah Pengurus

 

Pasal 23

 

  1. Keputusan Rapat Pengurus harus diambil berdasarkan rnusyawarah untuk    mufakat
  2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawárah untuk mufakat tidak    tercapai maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari ½    (satu perdua) jumlah suara yang sah
  3. Dalam hal suara setuju dan tidak setulu sama banyaknya  maka usul    ditolak. 
  4. Pernungutan suara mergenai diri orang dilakukan dengan surat suara   tertutup tanpa tandatangan sedangkan pernungutan suara mengenai    hal-hal. lain dilakukan secara terbuka kecuali Ketua Rapat menentukan    lain dan tidak ada keberatan dengan yang hadir.
  5. Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung  dalam menentukan  jumlah suara yang dikeluarkan.
  6. Setiap Rapat pengurus dibuat berita acara rapat yang ditandatangani    oleh ketua rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus lainnya yang    ditunjuk oleh rapat sebagai Sekretanis  rapat
  7. Penandatanaanan yang dimaksud dalam ayat (6) tidak diyaratkan    apabila Berita acara Rapat di buat dengan akta notaris
  8. Pengurus dapat juca mengambil keputusan yang sah tanpa rnengadakan Rapat Pengurus, dengan ketentuan semua anggota Pengurus telah diberitahu secara tertulis dan semua  anggota  Pengurus  memberikan persetu]uan rnengenai usul yang diajukan secara tertulis serta  rnenandatangani  persetujuan tersebut.
  9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (8)    mernpunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil    dengan sah dalarn Rapat Pengurus.                                                      

 

PENGAWAS

 

Pasal 24.

 

  1. Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas rnelakukan pengawasan dan rnernberi nasehat  kepada Pengurus dalarn menjalankan kegiatan Yayasan.
  2. Pengawas terdiri dari 1 (satu) orang atau lebih anggota Pengawas.
  3. Dalam hal diangkat  lebih dari 1 (satu) orang Pengawas maka 1 (satu)  orang     diantaranya dapat diangkat sebagai Ketua Pengawas.

 

Pasal 25

 

  1. Yang dapat diangkat sebgai anggota Pengawas  adalah orang    perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukurn dan tidak     dinyatakan bersalah dalarn melakukan pengawasan Yayasan yang    menyebabkan kerugian bagi Yayasan, masyarakat atau negara   berdasarkan putusan Pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal putusan   tersebut berkekuatan hukum tetap.
  2.  Pengawas diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk jangka    waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.
  3. Dalarn hal jabatan Pengawas  kosong, maka dalam jangka waktu paling    lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadiriya  kekosongan Pembina harus    menyelenggarakan rapat untuk mengisi kekosongan itu.
  4. Dalarn hal semua  jabatan Pengawas kosong, maka dalam jangka waktu    paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tenjadinya kekosongan tersebut,    Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk rnengangkat Pengawas    baru, dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengurus.
  5. Pengawas berhak mengundurkan diri dari jabatannya, dengan    memberitahukannya secara tertulis mengenai maksudnya tersebut     kepada Pembina paling lambat 30 (tiga puluh)  hari sebelum tanggal     pengunduran dirinya.
  6. Dalam hal terdapat penggantian Pengawas Yayasan, maka dalam     jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari  terhitung seiak tanggal    dilakukan penggantian Pengawas Yayasan, Pengurus wajib    rnenyampaikan pembenitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukurn     dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan Instansi Terkait.
  7.  Pengawas tidak dapat rnerangkap sebagai Pembiria Pengurus  atau     Pelakasana Kegiatan.

 

Paaal 26

 

Jabatan Pengawas berakhir, apabila : 

 

  1. meningga1 dunia
  2. mengundurkan diri
  3. bersalah melakukan tindak pidana berdasaarkan putuaan pengadilan           yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun.
  4. diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina.
  5. masa jabatan berakhir

 

TUGAS DAN WEWENANG PENGAWAS

 

Pasal 27

 

  1. Pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh tanggungjawab     menjalankan tugas  pengawasan untuk kepentingan Yayasan.
  2. Ketua  Pengawas dan atau anggota Pengawas berwenang bertindak    untuk dan atas nama Pengawas.
  3. Pengawa, benwenang:
    1. memasuki bangunan halaman atau tempat lain yang dipergunakan        Yayasan.
    2. memeriksa  dokumen.
    3. memeriksa  pembukuan, mencocokkanya dengan uang kas atau.
    4.  mengetahui segala tindakan yang telah dijalankan oleh Pengurus.
    5. memberi peringatan kepada Pengurus.
  4. Pengawas dapat rnemberhentikan sementara 1 (satu) orang atau lebih     Pengurus  apabila Pengurus tersebut bertindak  bertentangan dengan    Anggaran Dasar dan atau peraturan perundang - undangan  yang    berlaku.
  5. Pemberhentian sementara Itu harus diberitahukan secara tertulis kepada    yang bersangkutan, disertai alasannya.
  6. Dlam jangka waktu 7 (tuiuh) hari terhitung sejak tanggal  pemberhentian    sernentara itu, Pengawas diwajibkan untuk  rnelaporkan seara tertulis    kepada Pembina
  7. Dalam jangka waktu 7 (tuiuh) hari terhitung sejak tanggal laporan     diterima oleh Pembina sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) maka    Pembina walib memanggil anggota Pengurus  yang bersangkutan untuk    diberi kesempatan untuk membela  diri.
  8. Dalarn jangka waktu 7 (tu]uh) hari terhitung sejak tanggal pembelaan diri    sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) Pembina dengan putusan Rapat    Pembina wajib:
    1.  mencabut keputusan pemberhentian sementara  atau
    2.  memberhentikan anggota Pengurus yang bersangkutan.
  9. Dalam hal Pernbina tidak melaksanakan ketentuan sebagaimna dimaksud  dalam ayat (7) dan ayat (8), maka pemberhentian sementara batal demi hukum, dan yang berasangkutan menjabat kembali  jabatannya  semula.
  10. Dalam hal  seluruh  Pengurus diberhentikan sementara, maka untuk    sementara Pengawas diwajibkan mengunus Yayasan.

 

RAPAT  PENGAWAS

 

Pasal 28

 

  1. Rapat Pengawas dapat diadakan setiap waktu bila dianggap perlu atas    permintaan tertulis dari seorang atau lebih  Pengawas atau Pembina
  2. Panggilan Rapat Pengawas dilakukan oleh anggota Pengawas yang    berhak mewakili Pengawas
  3. Panggilan Rapat Pengawas disampaikan kepada setiap Pengawas    secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima    paling larnbat 7 (tujuh) hari sebelurn rapat diadakan, dengan tidak    meraperhitungkan tanggal  panggilan dan tanggal rapat
  4. Panggilan rapat itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat dan    acara rapat.
  5. Rapat Pengawas diadakan di ternpat kedudukan Yayaan atau di ternpat   kegiatan Yayasan.
  6. Rapat Pengawas dapat diadakan di ternpat lain dalam wilayah hukum    Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina.

 

Pasal 29

 

  1. Rapat Pengawas dipimpin oleh Ketua
  2. Dalam hal ketua tidak dapat hadir atau berhalangan rnaka  Rapat     Pengawas akan dipimpin oleh satu orang Pengawas  yang dipilih oleh dan  dari Pengawas yang hadir.
  3. Satu orang anggota Pengawas hariya diwakili oleh Pengawas  lainnya    dalam Rapat Pengawas berdasarkan surat Kuasa.
  4. Rapat Pengawas sah dan berhak mengambil keputusan yang  mengikat    apabila:
    1. Dihadini paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Pengawas.
    2. Dalarn hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat (4)  huruf a, tidak        tencapai maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengawas kedua .
    3. Pernanggilan sebagairnana yang dimaksud dalarn ayat (4)  hunuf b,       harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat         diselenggarakan,  dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan        dan tanggal rapat.
    4. Rapat Fengawas kedua di!elengganakarl paling cepat 10 (sepuluh) hari dan paling larnbat 21 (dua puluh satu)  hari dan terhitung sejak Rapat  Pengawas pertarna.
    5. Rapat Pengawas kedua adalah sah dan berhak rnengarnbil keputusan yang mengikat apabila dihadiri oleh paling  sedikit ½ (satu per dua)   jumlah Pengawas

 

Pasal 30

 

  1. Keputusan Rapat Pengawas harus diambil berdasarkan  rnusyawarah    untuk rnufakat.
  2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak    tercapai maka keputusan diarnbil berdasankan suara setuju lebih dan ½   (satu per dua) jumlah suara yang  sah.
  3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknyaI maka usul    ditolak.
  4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara    tentutup tanpa tandatangan sedangkan pemungutan suana mengenai    hal - hal lain, dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan    lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
  5. Suara abstain dan suana yang tidak sah tidak dihitung dalarn menentukan   jurnlah suara yang dikeluarkan.
  6. Setiap Rapat Pengawas dibuat berita acara rapat yang ditandatangani    oleh ketua rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengurus lainnya yang    ditunjuk oleh rapat sebagai Sekretaris rapat.
  7. Penandatanganan yang dimaksud dalam ayat (6) tidak disyaratkan    apabila Berita acara Rapat di buat dengan akta notaris.
  8. Pengawas dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa     mengadakan Rapat Pengawas dengan ketentuan semua pengawas    telah diberitahukan secara tertulis oleh semua Pengawas rnemberikan    persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis dengan    menandatangani usul tersebut.
  9. Keputusan yang diambil sebagairnana dimaksud dalam ayat (8)    mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil    dengan sah dalam Rapat Pengawas.

 

RAPAT GABUNGAN

 

Pasal 31

 

  1. Rapat Gabungan adalah rapat yang diadakan oleh Pengurus dan    Pengawas untuk mengangkat Pembina, apabila Yayasan tidak lagi    mempunyai Pembina.
  2. Rapat Gabungan diadakan paling larnbat 30 (tiga puluh) hari terhitung    sejak Yayasan tidak lagi rnempunyai Pembina.
  3. Panggilan Rapat Gabungan dlakukan oleh Pengurus.
  4. Panggilan Rapat Gabungan disampaikan kepada setiap  Pengurus dan Pengawas secara langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak rnernperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
  5. Pangilan Rapat Gabungan harus rnencantumkan tanggal, waktu. tempat   dan acara rapat.
  6. Rapat Gabungan diadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di     tempat kegiatan Yayasan.
  7. Rapat Gabunaan dipimpin oeh Ketua Pengurus.
  8. Dalarn hal Ketua Pengurus tidak ada atau herhalangan  hadir maka Rapat   Gabungan dipimpin oleh Ketua Pengawas.
  9. Dalam hal Ketua Pengurus dan Ketua Pengawas tidak ada juga     berhalangan hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh pengurus atau    Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengurus dan Pengawas yang hadir.

 

Pasal 32

 

  1. Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh Pengurus  lainnya dalam    Rapat Gabungan berdasarkan surat kuasa.
  2. Satu orang Pengawas hanya dapat diwakili oleb Pengawas  lainnya  dalam Rapat Gabungan berdasarkan surat kuasa.
  3. Setiap Pengurus atau Pengawas yang hadir berhak  mengeluarkan 1 (satu) suara dan tambahan 1 (satu) suara  untuk setiap Pengurus dan Pengawas   lain yang diwakilinya.
  4. Pemungutan suara mangenai diri orang dilakukan dengan surat suara    tertutup tanpa tandatangan sedangkan pemungutan suara mengenai    hal - hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali Ketua Rapat menentukan    lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
  5. Suara abstain dan suara yang tidak sah dianggap tidak dikeluarkan dan   dianggap tidak ada.

 

KORUM DAN PUTUSAN RAPAT GABUNGAN

 

Pasal 33

 

  1. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)  hunuf a tidak tercapai maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Gabuagan kedua.
  2. Pemanggilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hunuf  b harus        dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebeum rapat diselenggarakan        dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat
  3. Rapat Gabungan kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari   dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat        Gabungan pertama.
  4. Rapat Gabungan kedua adalah sah dan berhak mengambil         keputusan yang mengikat  apabila dihadiri paling sadikit ½  (satu per          dua) dari jumlah anggota Pengurus  dan ½ (satu per dua) dari jumlah         anggota Pengawas
  5. Keputusan Rapat Gabungan sabagaimana tarsebut diatas ditetapkan    berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
  6. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak     tercapai, maka keputusan diambil dengan Pemungutan berdasarkan    suara setuju paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah suara    yang sah yang dikeluarkan dalam rapat.
  7. Setiap Rapat Gabungan dibuat Berita acara Rapat  yang  untuk    pengesaharinya ditandatangani oleh Ketua Rapat dan 1(satu) orang    anggota Pengurus atau anggota Pengawas yang ditunjuk oleh rapat.
  8. Berita acara Rapat sabagaimana dimaksud dalam ayat (4)  menjadi bukti  yang sah tarhadap Yayasan dan pihak ketiga  tentang keputusan dan  segala sasuatu yang terjadi dalam rapat.
  9. Penandatanganan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) tidak    disyaratkan apabila berita acara Rapat dibuat dengan akta notanis.
  10. Anggota Pengurus dan anggota Pengawas dapat juga mengambil    keputusan yang sah tanpa mangadakan Rapat Gabungan,  dengan    ketentuan semua Pengurus dan semua telah diberitahu secana tertulis    dan semua pengurus dan semua Pengawas memberikan persetujuan    mengenai usul yang diajukan secara tertulis, dengan menandatangani   usul tersebut.
  11. Keputusan yang diambil dengan cara sebagaimana dimaksud  dalam    ayat (7) mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang    diarnbil dengan sah dalarn Rapat Gabungan.

 

TAHUN BUKU

 

Pasal 34

 

  1. Tahun buku Yayasan dimulai dari tanggal 1 (satu) Januari  sarnpai     Dengan tangga1 31 (tiga puluh satu) Desember.
  2. Pade akhir Desember tiap tahun, buku Yayasan ditutup.
  3. Untuk pertama kalinya tahun buku Yayasan dimulai pada tanggal dari    Akta Pendirian Yayasan dan ditutup tanggal  31 (tiga puluh satu)    Desember.

 

LAPORAN TAHUNAN

 

Pasal 35

 

  1. Pengurus wajib menyusun secara tertulis laporan tahunan paling lambat 5  (lima) bulan setelah berakhirnya tahun buku Yayasan.
  2. Laporan tahunan memuat sekurang-kurangnya :
    1. laporan keadaan dan kegiatan Yayasan selama tahun yang lalu serta         hasil yang telah dicapai;
    2. laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan pada         akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan laporan          keuangan.
  3. Laporan tahunan wajib ditandatangani oleh Pengurus dan Pengawas.
  4. Dalam hal terdapat anggota Pengurus atau Pengawas yang tidak     menandatangani laporan tersebut, maka yang bersangkutan harus    menyebutkan alasan tertulis.
  5. Laporan tahunan disahkan oleh Perbina dalam rapat tahunan
  6. Ikhtisar laporan tahunan Yayaaan disusun sesual dengan standar   akuntangi keuangan dan beriaku dan diurnumkan  pada papan    pengurnurnan dikantor Yayasan.

 

PERUBAHARI ANGGARAN DASAR

 

Pasal 36

 

  1. Perubahari Anggaran Dasar hariya dapat dilaksanakan berdasarkan keputusan Rapat Pembina, yang dihadiri paling sedikit 2/3  (dua per tiga) dari jumlah Pembina.
  2. Keputugan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
  3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak    tercapai, maka keputusan ditetapkan berdasarkan persetujuan paling    sedikit 2/3 (dua per tiga) dan seluruh jumlah Pembina yang hadir dan atau diwakili .
  4. Dalam hal korum sebagairnana dirnaksud dalarn ayat (1) tidak tercapai,    maka diadakan pemanggilan Rapat kedua paling cepat 3 (tiga) hari    terhitung sejak tanggal Rapat Pembina yang pertama.
  5. Rapat Pembina kedua tersebut sah, apabila dihadiri oieh  lebih dari ½     (satu per dua) dan seluruh Pembina.
  6. Keputusan Rapat Pembina kedua sah, apabila diambil berdasarkan    persetujuan suara terbanyak dari jurnlah Pembina yang hadir atau diwakili.

 

Pasal 37

 

  1. Perubahari Anggaran Dasar dilakukan dengan akta notarias dan dibuat     dalarn Bahaga Indonesia.
  2. Perubahari Anggraran Dasar tidak dapat dilakukan terhadap maksud dan   tujuan Yayagan.
  3. Perubahari Anggaran Dasar yang menyangkut  perubahari nama dan    kegiatan Yayasan harus mendapat persetujuan dari menteri Hukum Dan    Hak Asasi Manusia Republik  Indonesia.
  4. Perubahari Anggaran Dasar selain yang menyangkut hal-hal    sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) cukup diberitahukan kepada    Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
  5. Perubahari Anggaran Dasan tidak dapat dilakukan pada saat Yayasan    dinyatakan pailit, kecuali atas persetujuan kurator .

 

PENGGABUNGAN

 

Pasal 38

 

  1. Penggbungan Yayasan dapat dilakukan dengan menggabungkan 1(satu) atau lebih Yayasan dengan yayasan lain dan mangakibatkan Yayasan  yang menggabungkan diri menjadi bubar.
  2. Penggabungan Yayasan sebagaimana dimatsud dalam ayat (1)  dapat    dilakukan dengan memperhatikan :
  3. Usul penggabungan Yayasan dpat disampaikan oleh Pengurus   kepada Pembina .

 

  1. ketidakmampuan Yayasan melaksanakan kegiatan usaha tanpa         dukungan yayasan lain.
  2.  yayasan yang manerima penggabungan dan yang bergabung         kegiatannya sejenis  atau.
  3. Yayasan yang menggabungkan diri tidak pernah melakukan perbuatan yang bententangan dengan Anggaran Dasarnya, ketertiban umum dan  kesusilaan.

 

Pasal39

 

  1. Penggabungan Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan    Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit ¾  dari  jumlah anggota    Pembina dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari seluruh jumlah   anggota Pembina yang hadir.
  2. Pengurus  dari masing-masing Yayasan yang akan menggabungkan diri    dan yang akan menerirna penggabungan menyusun  usul rencana    penggabungan.
  3. Usul rencana penggabungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)    dituangkan dalarn rancangan akta penggabunaan oleh Pengurus dan    yayasan yang akan rnenggabungkan diri dan yang akan menerima    penggabungan .
  4. Rancangan akta penggabungan harus mendapat  persetujuan  dari     Pembina rnasing-masing Yayasan.
  5. Rancangan  sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dituangkan    dalam akta penggabungan yang dibuat dihadapan notaris dalarn    bahasa Indonesia.
  6. Pengurus Yayasan wajib rnengumumkan hasil penggabungan dalam surat  kabar harian berbahasa Indonesia paling lambat 30 (tiga puluh) hari. Terhitung sejak penggabungan  selesai dilakukan .
  7. Dalam hal penggabungan Yayasan diikuti dengan perubahari Anggaran    Dasar yang memerlukan persetujuan Menteri  Hukum Dan Hak Asasi    Manusia,  maka akta perubahan Anggaran Dasar Yayasan wajib    disampaikan kepada Menteni Hukurn Dan Hak Asasi Manusia untuk    memperoleh persetujuan dengan dilampiri akta penggabungan.

 

PEMBUBARAN

 

Pasal 40

 

  1. Yayasan bubar karena:
    1. Yayasan melanggar ketertiban umurn dan kesusilaan
    2. tidak rnampu mernbayar utangnya setelah dinyatakan pailit atau
    3. harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi  utangnya          setelah pernyataan pailit dicabut 
  2. Dalara hal Yayasan bubar sebagaimana diatur dalarn ayat (1) huruf a dan  huruf b Pembina rnenunjuk likuidator untuk membereskan kekayaan    Yayasan.
  3. Dalarn hal tidak ditunjuk  likuidator maka Pengurus bertindak  sebagai    likuidator.
  4. Pembubaran Yayasan hariya dapat dilakukan berdasarkan   keputusan Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit ½  dari jurnlah anggota Pernbina dan disetujui paling sedikit ¾  (tiga per empat) dari seluruh jurnlah anggota Pembina  yang hadir.

 

  1. alasan sebagairnana dirnaksud dalam jangka waktu yang ditetapkan       dalarn Angganan Dasar berakhir;
  2. tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar telah          tercapai atau tidak tercapai
  3. putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukurn tetap          berdasarkan alasan :

 

Pasal 41

 

  1. Dalarri hal Yayasan bubar  Yayasan tidak dapat rnelakukan  perbuatan    hukurn kecuali untuk mernbereskan kekayaannya  dalarn proses likuidasi
  2. Dalam hal Yayasan sedang dalam  proses likuidasi, untuk  semua surat     keluar dicantumkan frasa “dalarn likuidasi” dibelakang narria Yayasan.
  3. Dalara hal Yayasan bubar karena putusan Pengadilan, rnaka pengadilan    juga menunjuk likuidator.
  4. Dalam hal pernbubaran Yayasan karena pailit, berlaku peraturan    perundang-undangan dibidang kepail itan.
  5. Ketentuan mengenai penunjukan, pengangkatan, pemberhentian    sementara, pemberhentian, wewenang,  kewajiban, tugas dan     tanggungjawab serta pengawasan terhadap Pengurus berlaku juga bagi   likuidator.
  6. Likuidatoir atau Kurator yang ditunjuk untuk melakukan  pemberesan     kekayaan Yayasan yang hubar atau dibubarkan, paling lambat 5 (lima)    hari terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan    pernbubaran Yayasan dan proses likuidasinya dalam surat kabar harian    berbahasa  Indonesia.
  7. Likuidator atau Kuratcir dalam jangka waktu paling larabat 30 (tigapuluh)    hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib mengumumkan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia.
  8. Likuidator atau Kurator dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari tenhitung selak tanggal proses likuidasi berakhir wajib melaporkan Pembubaran   Yayasan kepada Pembina.
  9. Dalam hal laporan mengenai pembubanan Yayasan sebagaimana    dimaksud ayat (5) dan pengumuman basil likuidasi sebagairnana    dimaksud ayat (7) tidak dilakukan, rnaka bubarnya Yayasan tidak berlaku    bagi pihak ketiga.

 

CARA PENGGUNAAN KEKAYAAN SISA LIKUIDASI

 

Pasal  42

 

  1. Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang    mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar.
  2. Kekayaan sisa hasil likuidasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat   diserahkan kepada badan hukum lain yang melakukan kegiatan yang  sama dengan Yayasan yang bubar, apabila hal tersehut diatur dalam   Undang-undana yang berlaku bagi badan hukum tersebut.
  3. Dalam hal kekayaan sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada yayasan   lain atau kepada badan hukum lain sebagairnana dimaksud dalarn ayat (1)  dan ayat (2), kekayaan tersebut diserahkan kepada negara dan penggunaannya dilakukan sesual dengan maksud dan tujuan Yayasan  yang bubar

 

PERATURAN PENUTUP

 

Pasal 43

 

  1. Hal-hal yang tidak diatur atau belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar   ini akan diputuskan  oleh Rapat Pembina.
  2. Menyimpang dari ketentuan dalam Pasal 7 ayat (4), Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 24 ayat (1) Anggaran Dasar ini  mengenai tata cara pengangkatan Pembina, Pengurus, dan Pengawas untuk pertarna kalinya diangkat   susunan Permbina,  Pengurus dan pengawas Yayasan dengan susunan  sebagai benikut: click untuk melihat susunan pengurus dimaksud
Bagikan artikel ini